KAMPUANG "SARUGO" DI LIMA PULUH KOTA
SARUGO Kampuang "Saribu Gonjong" di Lima Puluh Kota
Sarugo adalah kependekan dari Saribu Gonjong. Artinya Seribu Gonjong. Gonjong adalah puncak rumah adat Minang, rumah gadang.
Kampuang Sarugo terletak di Kenagarian Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota Propinsi Sumatera Barat.
Koto Tinggi berada di daerah ketinggian. Dari pusat kota Payakumbuh jaraknya sekitar 48 KM, dengan jarak tempuh lebih kurang 2 jam menggunakan kendaraan roda empat. Berhawa sejuk khas pegunungan. Alamnya juga sangat asri. Pemandangan menghijau dengan hamparan yang dikelilingi perbukitan. Kebun jeruk khas Gunuang Omeh yang dikenal dengan "Jesigo" atau jeruak siam Gunuang Omeh juga sangat memanjakan mata. Berada di daerah ini sejenak kita terhindar dari hiruk pikuk jalan raya, ataupun sejenak melupakan dunia maya, karena akses internet sangat susah.
Koto Tinggi adalah daerah yang istimewa. Pernah menjadi Ibu Kota Negara sewaktu pemerintahan Darurat Indonesia di bawah pimpinan Syafrudin Prawiranegara (1948-1949). Sebuah Tugu juga dibangun sebagai pertanda sejarah Indonesia pernah ada di sini. Selanjutnya juga sedang dibangun Tugu baru PDRI yang jaraknya lebih kurang 2 KM dari Tugu lama. Sebuah proyek besar dengan lokasi yang cukup luas. Sebuah museum dan gedung pertemuan telah berdiri megah di tengah lokasi tersebut. Tapi karena proyek lainnya masih dalam pengerjaan, maka dua bangunan ini belum dibuka untuk umum. Para pendatang baru bisa menikmati megahnya gedung ini dari luar.
Satu lagi yang tidak kalah uniknya Nagari ini adalah pemandangan nan Eksotis, adanya sebuah Kampung yang sangat istimewa. Kampung ini dinamakan dengan Kampung "Sarugo", yang merupakan kependekan dari Saribu Gonjong. Kampung ini terletak di Jorong Sungai Dadok. . Dikiaskan seribu karena banyaknya rumah gadang yang ada di daerah ini.
Di Jorong Sungai Dadok ini berjejer rumah gadang yang masih dirawat dengan baik. Walaupun tampak sebagai rumah adat yang sudah tua, tapi masyarakat disini terus mempertahankannya. Perbaikan-perbaikan dilakukan tanpa merobah khas rumah adat. Ada sekitar 29 rumah adat, yang masing-masingnya mempunyai lima gonjong. Adalah suatu pemandangan yang sangat mengangumkan melihat rumah adat itu berdiri berjejer menghadap ke arah mesjid yang ada di pinggir jorong tersebut.
Walapun lokasinya lumayan jauh dari pusat kota payakumbuh, namun tidaklah rugi jika daerah ini menjadi salah satu pilihan wisata keluarga. Karena selain memberikan pengetahuan sejarah Indonesia, juga bisa memberikan pendidikan kebudayaan kearifan lokal kepada anak-anak kita. Bagi wisatawan yang mau menginap, beberapa rumah gadang juga sudah disediakan atau dikhususkan untuk penginapan. Senyum ramah masyarakat Kampuang Sarugo juga membuat kita semakin betah berlama-lama memanjakan mata dengan pemandangan indah di sini.

Komentar
Posting Komentar